www.rincilokal.id – Negara modern kini semakin terampil dalam berkomunikasi. Setiap kebijakan disampaikan dengan bahasa yang terstruktur dan data yang disajikan menarik, tetapi seberapa banyak dari semua ini benar-benar membawa makna untuk kehidupan masyarakat?
Dalam pengertian ini, Ludwig Wittgenstein memberikan peringatan penting tentang makna kata. Makna bukanlah sesuatu yang melekat pada kata itu sendiri, tetapi terletak pada cara bahasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Konsekuensi dari bahasa yang terputus dari pengalaman hidup adalah hilangnya makna. Dalam istilah kebijaksanaan Jawa, kita menyebut kondisi ini sebagai ilang teges, di mana kata-kata kehilangan substansi dan tidak lagi terhubung dengan tindakan nyata.
Kearifan lokal telah lama mengajarkan bahwa bahasa harus diiringi dengan kedalaman batin. Dalam tradisi Jawa, langkah pertama menuju kebijaksanaan adalah meneng dan meredakan pikiran.
Keadaan meneng bukan berarti tidak berbicara, tetapi lebih kepada proses menahan diri agar fikiran dapat lebih eling lan waspada. Dengan cara ini, dapat tercipta pertimbangan yang matang tanpa dibanjiri oleh suara luar.
Pentingnya Keheningan dalam Proses Berpikir
Tanpa meneng, kata-kata menjadi sembarangan dan kurang bermakna. Kurangnya keheningan juga membuat keputusan terasa ramai tanpa substansi yang dalam.
Dalam konteks pemerintahan, bahasa kebijakan sering kali diucapkan lebih cepat daripada pemahaman publik. Istilah seperti reformasi dan efisiensi terdengar gencar, tetapi tidak selalu tercermin dalam pemahaman yang sama di masyarakat.
Kondisi ini telah menyebabkan bahasa berubah menjadi alat operasional, bukan sarana untuk membimbing. Negara berbicara, tetapi masyarakat sering kali mendengar tanpa benar-benar memahami isi pesan tersebut.
Byung Chul Han menyebut fenomena ini sebagai zaman kelelahan, di mana aktivitas tanpa henti menjadi norma. Dalam situasi ini, keheningan sering diartikan sebagai kelemahan, padahal keheningan sangat penting untuk momen refleksi.
Di sinilah nilai keheningan dalam pengambilan keputusan menjadi jelas. Tanpa momen seperti itu, keputusan yang diambil cenderung kehilangan arah dan tidak memiliki jiwa.
Kepemimpinan yang Menempatkan Keberanian dalam Keputusan
Filsafat kepemimpinan yang berkembang di Nusantara menempatkan sunyi sebagai inti dari laku kepemimpinan. Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa kepemimpinan bukan diukur dari banyaknya kata, tetapi dari kedalaman sikap dan tindakan.
Prinsip Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani menjelaskan pentingnya teladan dan dorongan dari belakang yang hanya dapat berasal dari batin yang matang.
Keberanian untuk mendengarkan dan memberi waktu untuk refleksi adalah esensi dari kepemimpinan yang sejati. Ketika pemimpin langsung merespon tekanan tanpa mempertimbangkan hasil jangka panjang, keputusan tersebut sering kali bersifat reaktif dan bukan proaktif.
Dalam tradisi Minangkabau, salah satu ajaran penting adalah tentang beratnya pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Kato nan ampek mengisyaratkan pentingnya bahasa yang tepat dan kontekstual agar tidak menciptakan kesalahpahaman.
Kesalahan dalam menempatkan kata-kata tidak sekadar berakibat pada komunikasi, tetapi dapat melukai tatanan sosial masyarakat.
Menimbang Sebelum Mengambil Keputusan dalam Kebijakan Publik
Keputusan yang terburu-buru dianggap belum memikul siri, atau beban moral dari suatu tindakan. Dalam kultur Bugis Makassar, pemimpin yang tidak menimbang dengan bijak sering dianggap belum paccing, yang berarti pikirannya belum jernih.
Untuk menciptakan negara yang sehat, dibutuhkan lebih dari sekadar tunduk kepada peraturan. Rakyat perlu memahami kebijakan yang ada, yang dapat tercapai hanya jika waktu dan ruang diberikan untuk penjelasan dan diskusi.
Prinsip alon alon waton kelakon mengajak kita untuk bergerak dengan bijaksana, mementingkan ketepatan arah dibandingkan kecepatan. Kebijakan yang menyentuh hati akan lahir dari rasa tanggung jawab yang mendalam.
Lampu penerang kebijakan yang abadi tidak lahir dari pengumuman yang gemerlap. Ia lahir dari makna yang dihasilkan dalam keheningan, dari refleksi atas pengalaman dan niat yang benar.
Dalam dunia yang semakin keras suaranya, menjaga keheningan tetap relevan. Hanya dengan cara ini, negara bisa berpikir dan melangkah dengan arah yang jelas dan terarah.


