www.rincilokal.id – Sejak zaman dahulu, Indonesia telah memikat hati banyak pelancong dari berbagai belahan dunia. Salah satu kota yang menjadi ikon kunjungan adalah Batavia, yang sekarang dikenal dengan nama Jakarta, di mana berbagai aktivitas perdagangan dan pariwisata berkembang pesat.
Kota ini menjadi titik pertemuan banyak budaya dan tradisi, menciptakan atmosfer yang unik. Namun, di balik daya tariknya, ada cerita-cerita kelam yang sering kali terlupakan, salah satunya adalah insiden terjadi menjelang pergantian tahun baru pada tahun 1935.
Insiden tersebut melibatkan seorang warga India yang menginap dengan keluarganya di Batavia. Mereka berharap untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan merayakan tahun baru di tempat lain, tetapi nasib mereka berubah dramatically saat sebuah malapetaka menghampiri.
Kejadian Pencurian yang Mengharukan Keluarga Travelling
Pencurian itu berlangsung di malam yang tenang ketika seluruh keluarga terlelap. Tak terduga, seorang pencuri berhasil membobol penginapan dan menggondol uang tunai sebesar seribu gulden, yang pada masa itu merupakan jumlah yang sangat besar.
Dalam konteks ekonomi tahun 1930-an, sekedar satu gulden dapat membeli sekitar 25 kilogram beras. Ini berarti jumlah uang yang hilang setara dengan 25.000 kilogram beras, atau jika dikonversikan ke dalam nilai saat ini mencapai kurang lebih Rp300 juta.
Pihak kepolisian segera melakukan penyelidikan dengan serius setelah insiden ini. Mereka mencurigai bahwa pelaku pencurian tersebut telah memahami betul keadaan rumah penginapan tersebut, sehingga bisa melakukan aksinya dengan cepat dan tanpa bersuara.
Strategi Pencuri yang Memanfaatkan Kebodohan Pengelola
Pelaku pencurian menunjukkan keterampilan luar biasa. Ia memanjat dinding bangunan dan masuk ke dalam lewat pintu kamar tidur yang dibiarkan terbuka, seolah-olah tahu betul tempat dan lokasi penyimpanan uang. Ia hanya mengambil uang, tidak menyentuh barang lain di sekitar.
Baru keesokan harinya, ketika keluarga tersebut terbangun, mereka terperangah menyadari uang tunai mereka telah raib begitu saja. Kejadian ini menambah daftar panjang aksi kejahatan yang terjadi di Batavia, terutama menjelang perayaan besar seperti natal dan tahun baru, di mana banyak orang bersemangat berbelanja.
Kepolisian meneruskan penyelidikannya dan sempat mencurigai seorang pemuda berusia 25 tahun yang tiba-tiba memiliki uang dalam jumlah besar. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam, tuduhan tersebut terpaksa dibatalkan karena uang itu ternyata adalah modal usaha milik ayahnya.
Normalisasi Kejahatan Menjelang Perayaan Besar
Aksi pencurian ini bukanlah kejadian satu-satunya. Pada era yang sama, terdapat banyak laporan pencurian lain yang juga melibatkan nilai yang cukup signifikan. Satu contoh yang kuat adalah laporan pada 28 Desember 1938, di mana seorang pedagang di Pasar Senen melaporkan kehilangan sejumlah besar uang.
Dari laporan tersebut, pihak berwenang menyadari bahwa kejahatan selama periode tersebut berpotensi meningkat, dikarenakan banyak orang menghabiskan uang untuk perayaan akhir tahun dan Natal. Ini menciptakan peluang bagi para penjahat untuk melancarkan aksinya.
Menyusul rangkaian peristiwa ini, kepolisian Batavia mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar lebih waspada. Kami semua tahu bahwa saat krisis ekonomi melanda dunia pada tahun 1930-an, rasa kewaspadaan masyarakat sangat diperlukan, terutama saat akan menyambut moment-moment penting.


