www.rincilokal.id – Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal ketiga 2025 yang mencatat angka 5,04%. Selama bertahun-tahun, ekonomi Indonesia tampak terjebak di sekitar angka “5%”, menunjukkan pola yang stagnan dan sulit untuk diubah.
Walaupun ada beberapa lonjakan kecil, angka pertumbuhan ini mengindikasikan ketahanan yang sulit untuk dipecahkan. Seolah-olah ada kekuatan yang menarik perekonomian kembali ke zona stagnasi, tidak peduli seberapa keras usaha untuk meningkatkannya.
Dari sudut pandang ekonomi kompleks, situasi ini lebih dari sekadar angka statistik biasa. Ini melambangkan sebuah sistem ekonomi yang terkurung dalam pola yang sulit diubah, di mana setiap usaha untuk maju sering kali diikuti oleh penurunan kembali dan tantangan yang sama.
Pandangan Ekonomi Komoditas Indonesia dan Tantangannya
Sejak era Orde Baru, Indonesia berorientasi pada ekonomi berbasis komoditas seperti minyak, gas, dan kelapa sawit. Meskipun terdapat kemunculan industri pengolahan, sebagian besar dari mereka masih berkutat di pengolahan komoditas mentah yang tidak memberikan nilai tambah yang signifikan.
Siklus ini menjadi tantangan, karena ketergantungan pada sumber daya alam menciptakan ekonomi yang tidak inovatif. Dalam sistem seperti ini, keuntungan sering kali berasal dari penguasaan sumber daya, bukan dari peningkatan produktivitas atau inovasi, yang pada akhirnya menciptakan siklus negatif yang sulit untuk dipatahkan.
Perbandingan dapat dilakukan dengan Korea Selatan di tahun 1960-an yang melakukan reformasi ekonomi melalui kebijakan yang berani. Dengan kebijakan yang proaktif, Korea Selatan berhasil bertransformasi menjadi salah satu ekonomi terkuat di dunia, menunjukkan bahwa perubahan metode dan visi dapat mengubah nasib ekonomi negara.
Pentingnya Mengubah Struktur Ekonomi untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Analoginya, Indonesia bisa terjebak di pinggiran product space, di mana negara-negara yang memiliki tingkat kompleksitas ekonomi yang rendah sulit untuk beralih ke produk-produk lebih bernilai tinggi. Merujuk pada Economic Complexity Index, Indonesia berada pada peringkat yang memprihatinkan dibandingkan negara tetangga yang lebih maju.
Kita dapat melihat dari model ini bahwa negara yang berhasil memiliki produk-produk yang lebih kompleks dan beragam. Konsekuensinya, Indonesia harus berupaya untuk mengakumulasi kapabilitas tambahan guna beralih dari produk yang ada menjadi produk yang lebih bernilai.
Lebih lanjut, penting bagi Indonesia untuk membangun kebijakan industri strategis, yang tidak hanya melibatkan subsidi, tetapi juga menciptakan ekosistem inovasi yang berkelanjutan dan mampu bersaing di pasar global.
Pemimpin dan Kebijakan Adaptif untuk Kemajuan Ekonomi
Kebijakan yang diambil oleh pemerintah memiliki dampak signifikan pada arah pertumbuhan ekonomi. Saat ini, pendekatan yang “membiarkan pasar bekerja” sering kali gagal dalam menciptakan perubahan struktural yang diinginkan.
Dalam sistem kompleks, intervensi pemerintah sangat penting untuk memecahkan masalah koordinasi dan menghindari kegagalan pasar. Sejarah telah menunjukkan bahwa negara-negara yang mengalami industrialisasi berhasil melalui peran aktif dan strategis dari pemerintah mereka.
Oleh karena itu, dibutuhkan upaya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi, meningkatkan investasi dalam penelitian dan pengembangan, serta membentuk kolaborasi antara sektor publik dan swasta guna menciptakan ekosistem yang lebih inovatif.
Menyingkirkan Hambatan untuk Mencapai Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas
Indonesia kini menghadapi berbagai tantangan yang memperlambat pertumbuhan, termasuk belanja infrastruktur yang tidak seimbang dengan investasi dalam inovasi. Rendahnya anggaran untuk penelitian dan pengembangan perlu segera diatasi agar dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Dari sisi lain, pentingnya memastikan bahwa sektor industri memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan pasar global juga harus diperhatikan. Adopsi sistem pendidikan vokasi ganda dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Terakhir, meningkatkan kapasitas pemerintahan untuk beradaptasi dengan perubahan dan lingkungan yang kompleks menjadi sangat penting. Dalam konteks ini, kawasan ekonomi khusus dapat berfungsi sebagai laboratorium kebijakan yang memungkinkan eksperimen untuk menemukan solusi yang tepat.
Dengan strategi yang tepat dan fokus pada pengembangan kapabilitas, Indonesia memiliki potensi untuk keluar dari jebakan stagnasi dan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan. Pada akhirnya, keputusan yang diambil hari ini akan menentukan arah masa depan ekonomi Indonesia di tahun-tahun yang akan datang.


