www.rincilokal.id – Dalam beberapa tahun terakhir, industri pariwisata di Indonesia mengalami lonjakan yang signifikan dalam kunjungan wisatawan. Namun, peningkatan ini tidak sejalan dengan tingkat hunian hotel yang memprihatinkan, disebabkan oleh maraknya akomodasi ilegal yang lebih diminati wisatawan dengan anggaran terbatas.
Fenomena ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia. Menurut Maulana Yusran, kurangnya pengawasan dari pemerintah menjadi penyebab utama munculnya akomodasi ilegal, meski peraturan mengenai izin usaha akomodasi sangat jelas.
Yusran juga menyatakan bahwa kehadiran akomodasi liar menunjukkan adanya kelalaian dalam pengawasan yang seharusnya dilakukan pemerintah. Jika pemerintah tidak melakukan monitoring yang ketat, situasi ini akan semakin memperburuk kondisi industri perhotelan.
Perubahan Fenomena Akomodasi di Indonesia Seiring Perkembangan Pariwisata
Seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan, muncul pertanyaan seputar akomodasi yang tersedia. Menurut sejarawan Achmad Sunjayadi, sejarah akomodasi di Indonesia berawal pada masa Hindia Belanda, di mana fasilitas penginapan mulai berkembang seiring dengan meningkatnya daya tarik kawasan ini bagi wisatawan asing.
Pada awal 1800-an, akomodasi yang lebih layak seperti hotel dan mansion mulai dikenal. Sebelumnya, sebagian besar pelancong hanya menginap di rumah kerabat atau tempat makan yang menyediakan kamar. Konsep penginapan modern belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat saat itu.
Sebagian besar pelancong pada masa itu mengandalkan pasanggrahan, yaitu tempat peristirahatan yang awalnya disediakan untuk raja dan keluarga bangsawan. Ketika pariwisata berkembang, fungsi pasanggrahan mulai berubah dan dimanfaatkan oleh pengunjung dari luar daerah.
Akomodasi Tradisional dan Perubahannya di Tengah Kebutuhan Wisatawan
Pasanggrahan, yang pada awalnya bukan dirancang untuk wisatawan, kini digunakan oleh pengunjung dengan izin dari pemerintah kolonial. Selain tempat bermalam, tamu juga disuguhi jamuan sederhana seperti teh dan kue, menambah kesan keramahan yang ditawarkan.
Biaya menginap di pasanggrahan pada masa itu sekitar 2,5 gulden per malam, sudah termasuk layanan. Lokasi pasanggrahan umumnya berada di tempat-tempat dengan daya tarik tinggi, seperti pantai dan pegunungan, tidak hanya di Jawa tetapi juga di daerah lain seperti Sumatra dan Maluku.
Salah satu pengalaman menarik datang dari seorang tentara Prancis bernama Bernard, yang menggambarkan pengalamannya menginap di pasanggrahan di Sumatra Barat. Ia merasa nyaman dan puas dengan pelayanan yang diterima, mengindikasikan bahwa akomodasi sederhana pun bisa memberikan pengalaman positif.
Perkembangan Hotel Modern dan Dampaknya Terhadap Industri Pariwisata
Memasuki abad ke-19, ketika banyak wisatawan asing mengunjungi Indonesia, bisnis akomodasi yang lebih modern mulai tumbuh pesat. Sejak 1800-an, jenis penginapan yang dikenal sebagai herberg mulai muncul di pelabuhan, pegunungan, dan pantai sebagai tempat singgah sementara bagi para pelancong.
Hotel dengan pengelolaan yang lebih profesional mulai berkembang di awal 1900-an, menawarkan layanan yang lebih baik kepada tamu. Menurut Sunjayadi, hotel-hotel ini tidak hanya dikelola secara profesional, tetapi juga tergabung dalam jaringan internasional, yang menambah daya tarik bagi wisatawan.
Meskipun hotel kini menjadi pilihan utama bagi banyak wisatawan, jejak pasanggrahan sebagai pelopor akomodasi tradisional masih dapat ditemukan. Di beberapa lokasi, bangunan pasanggrahan lama masih berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah pariwisata Indonesia.


