www.rincilokal.id – Masagung, atau Tjio Wie Tay, merupakan sosok penting dalam sejarah bisnis Indonesia. Dikenal luas sebagai pendiri Toko Buku Gunung Agung, perjalanan hidupnya mencerminkan transformasi spiritual dan sosial yang mendalam.
Sejak tahun 1970-an, ketika Gunung Agung menjadi pusat perdagangan buku terbesar di Indonesia, Masagung sudah merasakan kesuksesan yang luar biasa. Namun, meski berhasil secara finansial, ada keraguan dan kegelisahan yang menghinggapi dirinya, yang kemudian memicu perubahan besar dalam hidupnya.
Dalam buku Apa dan Siapa? yang ditulis pada tahun 2004, tercatat bahwa Masagung memiliki tanggung jawab pajak yang sangat besar, mencerminkan skala bisnisnya yang luar biasa. Namun, jumlah harta yang melimpah juga membawa rasa takut akan kehilangan makna dalam hidupnya.
Pemikiran Mendalam Di Balik Kesuksesan Bisnis
Krisis kesadaran yang dialami Masagung pada usia 50 tahun merupakan titik balik penting dalam hidupnya. Sejarawan Denys Lombard mencatat bahwa perasaan tidak nyaman ini lahir dari ketakutan bahwa kekayaan bisa menjadi “senjata makan tuan”.
Ia khawatir kekayaannya justru akan menjerumuskan dirinya pada kehidupan yang melenceng dari nilai-nilai moral yang dijunjungnya. Kecemasan ini mengarah pada pencarian makna yang lebih dalam.
Ketika Masagung bertemu Tien Fuad Muntaco, seorang pakar hipnotisme dan tokoh spiritual, pertemuan itu mengubah arah hidupnya. Dari sinilah Masagung mulai terpapar pada ajaran yang lebih spiritual dan dalam.
Transformasi Spiritual Menuju Islam
Setelah berinteraksi dengan Tien Fuad, Masagung memutuskan untuk memeluk agama Islam, meninggalkan keyakinan Hindu yang sebelumnya dianut. Perubahan keyakinan ini bukan sekadar soal agama, tetapi juga berimbas pada gaya hidupnya yang menjadi lebih religius.
Ia tidak hanya beribadah secara pribadi, tetapi juga aktif dalam penyebaran ajaran Islam. Akademisi Leo Suryadinata mencatat bahwa Masagung berperan penting dalam dakwah dan kegiatan keagamaan di masyarakat.
Dengan mendirikan Yayasan Jalan Terang, Masagung menunjukkan komitmen yang kuat dalam membangun infrastruktur sosial, termasuk masjid, rumah sakit, dan museum. Usahanya ini semakin mengukuhkan statusnya bukan hanya sebagai konglomerat, tetapi juga sebagai figur yang signifikan dalam masyarakat.
Karya Sosial dan Pendidikan yang Berkelanjutan
Dalam menjalani kegiatan dakwah, Masagung juga memanfaatkan jaringan bisnisnya untuk menerbitkan buku-buku bertema Islam. Hal ini menunjukkan kecerdasannya dalam memadukan bisnis dengan nilai-nilai sosial yang tepat.
Melalui yayasan yang didirikannya, ia mendorong pembangunan dan pendidikan masyarakat, terutama di Jakarta. Kegiatan sosialnya tidak hanya memberikan dampak di kalangan umat Islam, tetapi juga menyentuh berbagai lapisan masyarakat.
Denys Lombard menilai bahwa perjalanan spiritual Masagung adalah bentuk pendewasaan nyata. Setelah melewati masa-masa keraguan, ia akhirnya menemukan tujuan yang lebih signifikan dalam hidupnya.
Warisan Spiritual dan Bisnis Hingga Akhir Hayat
Masagung meninggal dunia pada 24 September 1990, namun warisannya terus hidup. Jejak yang ditinggalkannya tidak hanya sebatas kesuksesan sebagai pengusaha, tetapi juga sebagai seorang yang telah mengalami transformasi spiritual yang mendalam.
Dalam setiap langkah dan usaha yang diambilnya, Masagung tetap mengedepankan nilai-nilai moral dan etika yang diyakininya. Hingga akhir hayatnya, ia tetap berkontribusi pada pengembangan masyarakat melalui kegiatan sosial dan pendidikan.
Dengan demikian, Masagung tetap dikenang sebagai tokoh berpengaruh yang mampu mengintegrasikan kesuksesan bisnis dengan tanggung jawab sosial. Perjalanan hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk terus mencari makna dalam kehidupan mereka.


