www.rincilokal.id – Keteladanan KH Saifuddin Zuhri, Menteri Agama pada masa Presiden Soekarno, menjadi teladan penting bagi para pejabat di Indonesia. Dengan prinsip hidup yang sederhana dan penolakan tegas terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, dia menunjukkan bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap. Saifuddin dikenal memilih untuk tinggal di rumah pribadinya, bukan rumah dinas yang sepantasnya menjadi haknya, sebagai wujud integritas dan pengabdian.
Saifuddin dilantik pada 2 Maret 1962 sebagai Menteri Agama ke-9. Jabatan ini tidak ia ambil dengan ambisi, melainkan dengan rasa was-was. Dalam bukunya yang berjudul “Berangkat dari Pesantren,” ia mengungkapkan ketakutannya ketika namanya disebut sebagai calon menteri, karena merasa masih ada banyak tokoh yang lebih berpengalaman.
Saat diundang oleh Presiden Soekarno pada 17 Februari 1962, Saifuddin meminta waktu untuk berpikir. Dia melakukan banyak pertimbangan dan berdoa, khawatir akan salah dalam memilih jalan hidupnya. Akhirnya, setelah melakukan refleksi panjang, dia menerima amanah itu dan resmi dilantik sebagai Menteri Agama.
Menjaga Stabilitas Keagamaan dan Relasi Antaragama
Ketika diangkat menjadi menteri, Saifuddin menyadari tanggung jawabnya untuk menjaga stabilitas kehidupan keagamaan di Indonesia. Dia juga bertugas untuk memperkuat hubungan antarumat beragama serta mengatur penyelenggaraan ibadah haji. Tugas ini menjadi sangat penting di tengah keragaman dan kompleksitas masyarakat Indonesia.
Saifuddin selalu mengingat bahwa jabatan bukanlah sebuah keistimewaan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Salah satu tindakan yang paling dikenal adalah penolakannya untuk tinggal di rumah dinas meski berhak. Keputusan ini mencerminkan komitmennya terhadap integritas dan kejujuran.
Dengan menolak tinggal di rumah dinas, Saifuddin menegaskan bahwa menteri harus menjadi contoh, bukan malah terlibat dalam keserakahan. Dia menekankan pentingnya mengutamakan kepentingan masyarakat dan menolak segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan.
Pilihan Hidup yang Sederhana dan Tulus
Meski melayani negara sebagai menteri, Saifuddin memilih untuk tetap hidup sederhana. Dia lebih suka menyicil rumah di Jalan Hang Tuah dan setelah lunas, memilih untuk menyerahkannya kepada Nahdlatul Ulama (NU) untuk kepentingan sosial. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan di kalangan elite NU, tetapi Saifuddin tetap pada pendiriannya.
Ada sebuah tawaran dari seseorang yang ingin membeli rumah tersebut dengan harga yang sangat tinggi, namun Saifuddin menolak. Baginya, uang bukanlah segalanya, apalagi jika itu mengorbankan niat baik untuk menyumbangkan rumah bagi kepentingan sosial.
Ketika ditanya tentang sikapnya, Saifuddin menegaskan bahwa ia tidak ingin terjebak dalam godaan materi. Dia menyadari pentingnya menjaga niat dan integritas, yang seharusnya menjadi pegangan bagi setiap pejabat.
Menolak KKN, Bahkan Dalam Keluarga Sendiri
Sikap Saifuddin dalam menolak praktik KKN tercermin ketika adik iparnya meminta bantuan untuk diberangkatkan haji. Meskipun secara aturan veteran seperti Zaiduin Dahlan sering mendapatkan fasilitas haji dari pemerintah, Saifuddin tetap menolak permohonan tersebut. Dia menyadari bahwa memberikan bantuan kepada keluarga dalam posisi tersebut bisa dianggap sebagai penyalahgunaan jabatan.
Dia dengan tegas mengatakan bahwa jika orang lain yang memintanya, dia akan menjawab secara berbeda. Namun, karena kedekatan keluarga, dia merasa harus lebih berhati-hati. Ini menunjukkan betapa pentingnya prinsip integritas yang dipegangnya.
Keputusan-keputusan yang diambil Saifuddin selama menjabat menunjukkan betapa dalamnya pemahamannya tentang tanggung jawab seorang pemimpin. Integritasnya menjadi teladan yang relevan hingga saat ini.
Warisan dan Nilai yang Ditinggalkan
Setelah mengundurkan diri dari jabatannya pada 1967, Saifuddin kembali ke kehidupan yang lebih sederhana. Dia mulai berdagang beras dan mengajar, mengabdikan diri kepada masyarakat dengan cara yang berbeda. Warisan nilai-nilai yang dia bawa terus menginspirasi generasi selanjutnya.
Ketika putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, jejak pengabdiannya seolah kembali hidup. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai integritas dan kejujuran yang dia ajarkan masih relevan dan menjadi panutan bagi generasi muda.
Saifuddin Zuhri tidak hanya meninggalkan catatan sejarah sebagai Menteri Agama, tetapi juga sebagai sosok yang menunjukkan bahwa integritas, kesederhanaan, dan keteguhan prinsip adalah kunci untuk mencapai kepemimpinan yang baik. Pengabdiannya akan selalu diingat sebagai pelajaran berharga bagi semua yang mengikuti jejaknya.


